Author : Moh Sulhan, S.T., M.KOM
Direktur Politeknik Unisma Malang
Memasuki Ramadhan 1447 H, peradaban digital telah mencapai puncaknya. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) dan realitas virtual kini menjadi “oksigen” yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Namun, kemajuan ini membawa paradoks moral; teknologi sejatinya adalah pedang bermata dua. Tanpa landasan etika, ia bisa menjadi alat bedah solusi sekaligus senjata yang melukai nilai kemanusiaan.

Teknologi: Antara Pemberdayaan dan Kehancuran Sebagai katalisator kebaikan, teknologi memungkinkan akses lintas batas terhadap ilmu pengetahuan dan koordinasi kemaslahatan umat. Riset dalam The Journal of Strategic Information Systems (2019) mengonfirmasi bahwa digitalisasi menciptakan nilai positif yang luar biasa jika dikelola dengan tata kelola yang tepat.
Namun, di sisi gelapnya, teknologi tanpa adab dapat berubah menjadi mesin penghancur. Algoritma media sosial sering kali memerangkap kita dalam “ruang gema” (echo chambers) yang menyuburkan polarisasi. Studi Lazer et al. (2018) dalam majalah Science mengungkap fenomena miris: informasi palsu (hoaks) menyebar jauh lebih cepat daripada kebenaran, merusak tatanan sosial dalam sekejap. Di Indonesia, Jurnal Petanda (2025) mencatat bahwa kecepatan arus informasi sering kali mengorbankan akurasi. Dampak psikologisnya pun nyata; Jurnal Insight UPI (2025) melaporkan peningkatan depresi pada remaja akibat tekanan identitas digital, sementara Jurnal Judge (2026) menyoroti maraknya kejahatan siber yang mengincar data pribadi.
Ramadhan dan Perisai “Polusi Digital” Ramadhan 1447 H hadir di tengah kebisingan ini sebagai momen “reset”. Sungguh ironis ketika fisik kita berpuasa dari lapar dan haus, namun Jari kita tetap “rakus” melahap konten tak berdasar atau memuntahkan komentar kasar. Inilah fenomena polusi digital. Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu tegas melalui hadist riwayat Bukhari:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari).
Di era ini, urgensi hadist tersebut bertransformasi menjadi: “Ketiklah yang baik, atau diamlah (log out)”.
Kehadiran agama sejatinya tidak untuk membatasi kemajuan teknologi, melainkan untuk memberikan ruh spiritual agar teknologi tersebut tetap berada di jalur kemanusiaan. Hal ini selaras dengan misi Rasullullah yang ditegaskan dalam hadis riwayat Al-Baihaqi:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Misi penyempurnaan akhlak ini melintasi batas fisik menuju ruang virtual. Di tengah dunia digital yang sering kali anonim, karakter asli seseorang justru diuji: apakah kita tetap menjaga kesantunan saat identitas tidak dikenali, atau sejauh mana para praktisi dan akademisi menjaga integritas data mereka?. Akhlak digital berarti membangun ekosistem internet yang sehat. Ini adalah tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi digunakan sebagai instrumen pengangkat martabat manusia, bukan justru sebagai alat penghancur melalui fitnah dan perpecahan.
Evolusi Pendidikan: Adab sebagai Kompas Dunia pendidikan mengalami pergeseran sistematik dari papan tulis ke layar sentuh. Jika dahulu adab diserap melalui interaksi fisik dengan guru, kini sumber ilmu ada dalam genggaman tanpa jaminan kematangan emosional. Di sinilah nilai Pondok Pesantren menjadi sangat krusial sebagai “jangkar” moral. Pesantren mengajarkan prinsip Al-Adabu Fauqal ‘Ilmi (الأدب فوق العلم), bahwa “Adab berada di atas ilmu”. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan pelaku cyberbullying yang cerdas atau penyebar hoaks yang sistematis.
Sinergi Kurikulum Masa Depan Langkah ideal ke depan adalah mengadopsi kekuatan pendidikan formal dalam penguasaan perangkat dengan kedalaman spiritual pesantren. Implementasi nyata dapat berupa:
–Integrasi Etika Digital: Menjadikan hadist “berkata baik atau diam” sebagai standar komunikasi dalam praktikum teknologi informasi.
–Keteladanan Digital: Guru dan dosen berperan sebagai sosok “Kyai” di dunia maya yang menunjukkan cara merespons perbedaan pendapat dengan kepala dingin.
–Filter Tabayyun: Mengadaptasi konsep verifikasi pesantren ke dalam kemampuan critical thinking sebelum menyebarkan informasi.
Sinergi ini bertujuan mencetak generasi yang memiliki “rem internal”. Memiliki akses untuk memposting bukan berarti wajib berbicara jika tidak ada kebaikan di dalamnya.
Momentum Refleksi: Menjadi Manusia Bermanfaat Menyempurnakan akhlak di era digital berarti membangun ekosistem internet yang sehat untuk mengangkat martabat manusia. Jika kita mampu menahan hal yang halal demi ketaatan berpuasa, maka secara logika kita harus lebih mampu menahan diri dari menebar kebencian.
Marwah kita tidak lagi ditentukan oleh jumlah likes atau followers, melainkan oleh seberapa mampu kita menjaga lisan dan jari untuk membawa manfaat bagi sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)” (HR Jabir).
Di era disrupsi ini, keshalehan kita diukur dari seberapa besar kemanfaatan yang lahir dari ujung jari kita.
“Jadilah penyaring kebaikan di derasnya arus digital; karena sebaik-baik kita bukanlah yang paling viral, melainkan yang teknologinya paling membawa manfaat bagi sesama.”
*Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Ramadhan di Ujung Jari : Menjaga Marwah “Berkata Baik atau Diam” di Era Digital”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/sulhantonet3122/699d2694ed64154bc12064e2/ramadhan-di-ujung-jari-menjaga-marwah-berkata-baik-atau-diam-di-era-digital
Kreator: Sulhan