Revolusi Public Speaking: Belajar Bicara Lebih Percaya Diri dengan Bantuan AI

BATU – “Belajar Public Speaking pakai AI? Bisa!” Kalimat ini menjadi pemantik semangat dalam gelaran “Workshop Berani Bicara Itu Keren Sessions #2” yang berlangsung meriah di Hotel Aston Inn, Batu. Menghadirkan Sugoy Suhendra, S.E., M.I.Kom, seorang Public Speaking Coach sekaligus dosen dari Politeknik Unisma Malang (POLISMA), workshop ini berhasil membongkar stigma bahwa belajar bicara di depan umum harus selalu dimulai dengan rasa takut.

Dihadapan sekitar 200 peserta yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua, Sugoy menekankan bahwa kemampuan public speaking adalah kunci untuk menyampaikan ide dan pesan secara efektif. Menariknya, kali ini teknologi Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai “asisten pribadi” bagi mereka yang ingin berlatih secara mandiri di rumah, terutama bagi sosok yang pemalu atau introvert.

ChatGPT: Pelatih Vokal dan Penulis Naskah Digital

Dalam sesi praktik, Sugoy memperkenalkan penggunaan ChatGPT sebagai media berlatih. Peserta diajak berinteraksi langsung dengan AI untuk mendapatkan umpan balik (feedback) instan.

“Seru banget! Kita bisa dengar langsung komentar dari AI soal kelebihan dan kekurangan cara bicara kita,” ungkap Sheza, salah satu peserta asal Malang dengan antusias.

Penggunaan AI dalam public speaking tidak hanya terbatas pada suara, tetapi juga mencakup:

  1. Penyusunan Naskah: Membantu menyusun struktur pidato yang sistematis (Pembukaan, Isi, Penutup).
  2. Latihan Dialog: Fitur suara pada AI memungkinkan pengguna melakukan simulasi tanya jawab.
  3. Analisis Teori: Memberikan saran teknik pernapasan, intonasi, hingga pemilihan kata yang tepat.

Mengenal AI Lebih Jauh dalam Public Speaking

Selain ChatGPT, dunia teknologi saat ini sebenarnya sudah menyediakan berbagai alat AI yang lebih spesifik untuk mengasah kemampuan berbicara. Berikut adalah beberapa fungsi AI yang dapat membantu para pembicara:

  • Analisis Penggunaan Kata Pengisi (Filler Words): Beberapa aplikasi AI dapat mendeteksi seberapa sering Anda mengucapkan “emmm”, “eee”, atau “apa ya”, yang seringkali mengganggu alur bicara.
  • Analisis Kecepatan Bicara (Pacing): AI mampu mengukur apakah Anda bicara terlalu cepat atau terlalu lambat agar audiens tetap nyaman mendengar.
  • Simulasi Audiens Virtual: Teknologi VR (Virtual Reality) yang dikombinasikan dengan AI dapat menciptakan ruang kelas atau panggung virtual untuk melatih mental sebelum tampil di panggung nyata.

Pentingnya Sentuhan Manusia dan Kelas Tatap Muka

Meski AI sangat membantu untuk latihan mandiri, Sugoy Suhendra tetap memberikan catatan penting. Beliau menyarankan agar setiap orang tetap mengikuti kelas atau kursus public speaking secara konvensional.

“Berlatih dengan AI itu bagus untuk teknis dasar, tapi mengikuti kelas tetap diperlukan agar pembelajaran lebih komprehensif. Keuntungan berlatih bersama teman-teman di kelas adalah pengalaman nyata dan interaksi emosional yang sangat krusial dalam membangun kepercayaan diri,” jelas Sugoy.

Kemeriahan Lomba di Akhir Sesi

Tidak hanya belajar teori dan praktik AI, workshop ini ditutup dengan kompetisi yang memperebutkan Piala Dinas Pariwisata Kota Batu. Para peserta langsung menguji nyali mereka dalam berbagai kategori lomba, seperti:

  • Lomba Youtuber
  • Lomba Reporter
  • English News Reader

Keberhasilan acara ini membuktikan bahwa penggabungan antara keberanian personal dan pemanfaatan teknologi dapat menciptakan generasi yang tidak hanya “berani bicara”, tapi juga cerdas dan adaptif terhadap zaman.

About the Author

You may also like these